Senin, 27 Juni 2011

Tari Caci, Uji Nyali Pria Manggarai

TARI CACI Sepasang penari caci saling memukulkan cambuk ke lawan masing-masing pada pagelaran seni yang diselanggarakan RRI Kupang, belum lama ini.
  ayunan keras pecut dari seorang pria langsung menimbulkan bunyi seperti petir, menghentak ratusan penonton Panggung Hiburan yang digelar Radio Republik Indonesia (RRI) Stasiun Kupang. Empat pria muda yang memegang pecut serta menggunakan busana khas Manggarai yang sudah dilengkapi tameng, dan pelindung lainnya badan, saling unjuk kebolehan.
Dua di antara empat orang itu saling berhadap-hadapan, seorang diantaranya mengambil posisi siap menyerang sementara yang lainnya mengambil posisi bertahan. Dan, sebelum menyerang, pecut tersebut di kibas-kibas sehingga menyebabkan bunyi-bunyi yang keras dan tajam, tak ubahnya petir.
 Tidak lama kemudian, seorang di antaranya mengibaskan pecut ke tubuh seorang yang mengambil posisi bertahan dan penoton pun berteriak histeris. Para penari cari terus saja beraksi mengikuti irama musik dan lagu.
 Empat pria ini merupakan bagian dari grup Tari Caci dari Sanggar Wela Rana Pauk-Kupang yang tampil membawakan atraksi caci.
 Tarian ini dibawakan oleh empat orang dan didukung delapan orang penyanyi tradisional untuk mengiring penampilan grup ini. Empat orang itu adalah Anyok Fanis Sina, Roby Yanuarius, Renold Yoland dan Dolfus Jama.
 Mereka yang membawakan atraksi caci ini merupakan gambaran pria Manggarai yang memiliki nyali untuk bertarung. Mereka saling serang dan bertahan, bahkan saling melukai. Namun tidak ada dendam di antara mereka. Yang ada hanya suka cita.
 Caci merupakan tarian atraksi dari bumi Congkasae- Manggarai. Hampir semua daerah di wilayah ini mengenal tarian ini. Kebanggaan masyarakat Manggarai ini sering dibawakan pada acara-acara khusus.
 Peralatan dalam tarian ini antara lain cambuk (larik), perisai (giliq), pelindung dada, pelindung kaki dan lutut (bik) dan pelindung kepala (pangga).
 Semua bahan ini terbuat dari kulit kerbau. Masing- masing pihak mendapat kesempatan memukul dan pihak lainnya menangkis. Dan masing-masing mendapat giliran untuk memukul dan menangkis.
 Giring-giring yang digantungkan di belakang pinggangnya agar pada saat menari dapat mengeluarkan irama atau nada yang merdu didengar dalam mengikuti irama gong yang dibunyikan oleh kelompoknya. Tarian ini diiringi musik tradisional Manggarai dan serta syair-syair berbahasa Manggarai.
 Servas S Budiman, anggota Sanggar Wela Rana Pauk ini mengatakan, tari caci saat ini sudah kurang populer di kalangan anak muda di Manggarai, apalagi mereka yang sudah tinggal di kota. Ada juga yang masih meminati tarian ini namun tidak memahami makna yang terkandung dalam tarian ini.
 Menurutnya, caci sebenarnya merupakan gambaran suka ria dan cinta kasih antara petarung. Sebab, tarian ini berasal dari kasih sayang seorang kakak pada adiknya. "Jadi tidak ada dendam dalam pertarungan ini.
 Caci sendiri dari legendanya menggambarkan begitu besar cinta kasih sang kakak pada adik. Sehingga tradisi kasih sayang itu disalurkan dalam bentuk ini, sehingga para petarung tidak boleh dendam meski harus mengalami luka akibat terkena pecut lawannya," jelas anak muda asal Manggarai ini.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar